Info Bali

Memuat...

Sabtu, 17 Maret 2012

Info Bali: Hari Rya Nyepi

Info Bali: Hari Rya Nyepi

Hari Rya Nyepi

Hari raya nyepi bulan ini tepatnya tanggal 23 maret 2012 ada yang menarik diperayaan ini yaitu sebelum melaksanakan hari raya nyepi semua umat hindu dibali membuat patun tau yang lebih dikenal dengan sebutan ogoh-ogoh rasanya sangat menarik berada dibali pas perayaan nyepi seperti ini merasakan malam puncaknya yang sangat begitu ramai dengan gemerlap suasana yang sakral bagi mereka umat hindu bali berikut saya akan bahas asal usul adanya perayaan nyepi dan apa manfaatnya buat umat hindu dibali. Hari raya Nyepi oleh umat hindu di Bali dirayakan sebagai hari pergantian tahun baru Caka. Hari raya ini menurut penanggalan hindu jatuh pada tanggal satu (penanggal pisan) sasih X (kedasa) atau tepatnya sehari sesudah tilem ke IX (kesanga). Terdapat beberapa rangkaian pelakasanaan hari raya Nyepi ini, yaitu: Melasti Melasti sering disebut dengan Melis atau Mekiis. Upacara melasti ini dilakukan pada pengelong 13 sasih kesanga (tepatnya traodasa kresnapaksa sasih IX). Pada upacara melasti ini dilakukan pensucian atau pembersihan segala sarana atau prasarana persembahyangan. Alat-alat atau sarana persembahyangan yang dibersihkan antara lain adalah: pratima dan pralingga. Sarana-sarana ini selanjutnya diusung ke tempat pembersihan seperti laut (pantai) atau sumber mata air lain yang dianggap suci, sesuai dengan keadaan tempat pelaksanaan upacara (desa, kala, patra). Tujuan dari upacara melasti ini adalah untuk memohon tirtha amerta sebagai air pembersih dari Hyang Widhi. Tawur Kesanga Tawur kesanga jatuh sehari sebelum pelaksanaan hari raya nyepi yaitu pada tilem kesanga. Pada upacara tawur ini dilakukan persembahan kepada para bhuta berupa caru. Caru ini dipesembahkan agar para bhuta tidak menurunkan sifat-sifatnya pada pelaksanaan hari raya nyepi. Hal ini juga bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur jahat dari diri manusia sehingga tidak mengikuti manusia pada tahun berikutnya. Upacara tawur kesanga ini sering juga disebut dengan upacara pecaruan dan juga tergolong upacara bhuta yadnya. Hari Nyepi Hari raya nyepi dirayakan oleh umat dengan cara melakukan Catur Bratha Penyepian. Catur bratha penyepian terdiri dari empat macam pantangan yaitu: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bekerja) dan amati lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan). Semua pantangan in dilakukan untuk mengekang hawa nafsu dan segala keinginan jahat sehingga dicapai suatu ketenangan atau kedamaian batin. Dengan ini pikiran manusia bisa terintropeksi atas segala perbuatannya pada masa lalu dan pada saat yang sama memupuk perbuatan yang baik untuk tahun berikutnya. Semua ini dilakukan selama satu hari penuh pada hari raya nyepi. Ngembak Geni Sehari setelah hari raya nyepi, semua aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Hari ini dimulai dengan persembahyangan dan pemanjatan doa kepada Hyang Widhi untuk kebaikan pada tahun yang baru. Pada hari ngembak geni ini hendaknya umat saling bersilatuahmi dan memaafkan satu sama lain. Hari raya nyepi pada hakekatnya adalah hari pengekangan hawa nafsu dan intropeksi diri atas segala perbuatan yang dilakukan pada masa lalu. Pelaksanaan hari raya nyepi ini harus didasari dengan niat yang kuat, tulus dan ikhlas tanpa ada ambisi tertentu. Pengekangan hawa nafsu untuk mencapai kebebasan batin memang suatu ikatan tetapi ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Selasa, 13 Desember 2011

Tanah Lot

Tanah Lot Bali dikenal sebagai tempat terbaik untuk menyaksikan pemandangan matahari tenggelam (sunset) di Bali. Apalagi kalau menyaksikannya lewat tebing tinggi yang juga ditempati restoran-restoran kecil disana. Saat terbaik untuk berkunjung ditempat ini adalah antara pukul 17.00 - 18.30 WITA. Pura Tanah Lot merupakan salah satu pura suci terbesar di pulau Bali. Disini juga sering diadakan upacara-upacara besar umat Hindu Bali. Selain tempatnya yang sangat luas dan pemandangan matahari tenggelam yang sangat spektakuler, deburan ombak disekitar area pura juga menjadi daya tarik tersendiri. Untuk Anda turis domestik yang ingin masuk ke kawasan wisata ini akan dikenai biaya sekitar Rp 20.000 per orang. Untuk turis asing biaya masuknya menjadi dua kali lipat. Di sepanjang jalan dari mulai pintu masuk sampai ke kawasan pura akan dijumpai berbagai macam barang dagangan yang beraneka ragam, dari mulai kaos, kalung, patung dan sebagainya sampai dengan tentu saja tempat makan. Lokasi untuk menuju Tanah Lot Bali tidaklah jauh dari Kuta atau Denpasar. Hanya sekitar 20-30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil. Seperti Pantai Kuta, biasanya Tanah Lot merupakan tujuan terakhir bagi para pelancong setelah seharian mengunjungi berbagai tempat wisata menarik lainnya

Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura di Bali dengan lokasinya yang sangat indah. Daya tarik utama bagi para wisatawan dari pura ini adalah panoramanya yang spektakuler. Terletak di bagian barat laut, pura ini seperti bertengger di ujung tebing batu yang sangat tinggi dan curam, dengan pemandangan lautnya dibawah berwarna biru bersih dan hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik. Menurut sejarah, seorang pendeta Hindu yang berasal dari Jawa bernama Empu Kuturan adalah orang yang pertama kali membangun pura di tempat ini. Kemudian diteruskan oleh sejawatnya yang kemudian juga membangun pura Tanah Lot yang juga terkenal dengan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang sangat indah. Untuk bisa masuk kedalam pura ini pengunjung harus mengenakan sarung dan selempang yang bisa disewa ditempat itu. Waktu terbaik untuk mengunjungi pura Uluwatu adalah sore hari pada saat matahari terbenam sehingga bisa menyaksikan pemandangan spektakulernya. Tembahan informasi, disekitar komplek pura terdapat segerombolan monyet. Para monyet ini biasanya suka usil dengan mengambil berbagai macam barang yang dibawa pengunjung. Barang yang sering menjadi incaran mereka adalah kacamata, tas, dompetatau apa saja yang gampang direbut. Jadi hati-hati dengan mereka apabila sedang berkunjung di komplek pura Uluwatu Bali.

UBUD

Ubud terkenal dengan kehebatan kesenian dan kehidupan tradisional orang Bali. Tempat ini juga dikenal sebagai penghasil kerajinan perak dan tembaga dengan orientasi ekspor. Kehidupannya setenang dikawasan Sanur namun jangan harap menemukan pemandangan pantai disini. Kehangatannya menawarkan keasyikan tersendiri daripada pantai yang dingin. Keramahtamahan penduduk lokalnya juga terasa. Semua bule yang juga kebanyakan menetap disana kebanyakan jadi ikut tertular dengan sifat ini. Mereka lebih sabar dan penuh pengertian dalam hidup bermasyarakat.

SANUR

Sanur merupakan alternatif yang sempurna untuk berlibur dengan tujuan ketenangan. Tidak seramai dan sehinggar binggar Kuta, namun tetap menawarkan keasyikan tersendiri. Terdapat tempat penginapan hotel dari hotel kelas dunia seperti Bali Hyatt Sanur dan Sanur Beach Hotel sampai hotel melati dibawah 100.000 Rupiah. Kalau ingin melihat matahari tenggelam (sunset) harus di Kuta, maka untuk melihat matahari terbit (sunrise) Pantai Sanur adalah tempatnya. Dari Pantai Sindhu kita bisa melihat pemandangan matahari terbit yang sangat spektakuler. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikannya. Para pelancong dari luar Bali seperti rombongan bus dari Surabaya, Malang, Yogya, Solo, Jakarta dan kota-kota lainnya di Jawa dan bahkan Sumatera hampir bisa dipastikan akan 'berlabuh' dulu di daerah Sanur ini untuk melepas penat sekaligus memulai tur panjang mereka. Terutama di sepanjang Jalan Danau Tamblingan, disini berjajar hotel-hotel sebagai tempat menginap terlengkap di daerah Sanur. Termasuk juga didalamnya tempat hiburan seperti bar, diskotik namun tidak seramai di Kuta dan restoran lezat yang menyajikan menu Indonesia dan luar negeri.

NUSA DUA

Nusa Dua Bali adalah tempat luxury dimana hampir semua hotel kelas Diamond berada. Nusa Dua juga tempat dimana kebanyakan hotel-hotel besar mempunyai private beach atau pantai sendiri biasanya berlokasi di bagian paling belakang hotel. Pantai tersebut adalah Pantai Nusa Dua. Disini juga tidak ketinggalan tempat-tempat belanja yang elit berupa produk pakaian, cinderamata dan peralatan olahraga pantai. Area ini sangat menyenangkan karena sejak awal didisain sebagai tempat pariwisata yang All Inclusive, artinya semua turis akan mendapatkan semua fasilitas (dengan konotasi mahal) untuk berlibur di kawasan ini. Kawasan ekslusif ini sangat kondusif untuk mereka yang berkantong tebal. Semuanya serba terkompleks dan tertata dengan baik didalam areal BTDC atau Bali Tourism Development Center.

KUTA

Kuta adalah tujuan wisata terfavorit di Bali. Area Kuta sangat terkenal dipenjuru dunia dimana terdapat Pantai Kuta yang indah. Di pantai ini akan kita jumpai berbagai macam pengunjung pantai mulai dari bule Eropa, Asia dan Amerika, sampai 'bule lokal' dari pulau Jawa, Jakarta, dsb. Kuta juga terkenal dengan tempat shopping atau tempat belanja yang asyik dan kehidupan malam yang hingar bingar. Tempat dimana penginapan berupa hotel kelas dunia seperti Hard Rock Hotel sampai dengan hotel murah hemat seperti Sahid Raya Hotel. Kedua hotel ini menghadap langsung ke Pantai Kuta. Sejajar dengan hotel-hotel tersebut diatas, sekitar 100 meter dari akhir jalan utama terdapat Kamasutra Bali, Restaurant Club & Lounge. Tempat ini sangat terkenal terutama bagi para lokal baik penduduk tetap atau pelancong. Lokasinya sangat strategis didepan pantai Kuta dan suasananya juga tertata apik. Bagi Anda yang ingin bersantap sore atau malam dengan pemandangan matahari terbenam, alternatif murah meriah adalah di Pantai Kuta Food Court. Tersedia berbagai macam masakan nusantara dan beberapa masakan luar negeri.
Denpasar adalah ibukota propinsi Bali. Bukan tempat tujuan wisata dan mungkin juga bisa disebut sebagai satu-satunya daerah di Bali yang pantas untuk mendapat sebutan Kota. Seperti layaknya ibukota provinsi, segala aktifitas pemerintahan berada di kota ini. Mulai dari kantor gubernur, kepolisian daerah, walikota sampai urusan keimigrasian. Tidak terkecuali untuk para bule, mereka harus datang ke Denpasar untuk mengurus segala hal seperti misalnya mengenai perijinan usaha. Di ibukota Bali ini Anda akan menjumpai warga Denpasar dengan berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Sehingga tidak heran, terutama di kantor-kantor swasta, dalam satu ruang kerja terdapat pegawai yang bersuku Bali, Jawa, Sunda, Irian, Dayak, Madura, Lombok, dsb. Hal ini tidaklah mengherankan sebab Denpasar memang kota tujuan terbesar para pendatang yang mengadu nasib di pulau Dewata Bali. Seperti halnya kota-kota besar lainnya di Indonesia, Denpasar juga mempunyai apa yang disebut landmark. Di kota-kota di pulau Jawa biasa menyebutnya dengan alun-alun, atau sebuah tempat besar menyerupai lapangan dimana disitu berdiri monumen besar ditengahnya, lengkap dengan fasilitas umum beserta para pedagang didalamnya. Di Denpasar terdapat monumen yang besar bernama Lapangan Puputan Renon.

Minggu, 20 November 2011

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebu
tan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

Seni Tari DiBali

PERSPEKTIF HINDU DALAM TARI BALI DAN TARI PENDET Oleh : W. B. Padmawiryanta Kesenian dalam perspektif Hindu di Bali yang universal identik dengan kehidupan religi masyarakatnya sehingga mempunyai kedudukan yang sangat mendasar. Para penganutnya dapat mengekspresikan keyakinan terhadap Hyang Maha Kuasa. Maka banyak muncul kesenian yang dikaitkan dengan pemujaan tertentu atau sebagai pelengkap pemujaan tersebut. Upacara di Pura-Pura (tempat suci) tidak lepas dari seni suara, tari, karawitan, seni lukis, seni rupa dan sastra. Candi-candi, Pura-Pura, dibangun sedemikian rupa sebagai ungkapan rasa estetika, etika dan sikap religius dari penganut Hindu di Bali. Pregina (penari) dalam semangat ngayah (bekerja tanpa pamrih) mempersembahkan tarian sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), bhakti dan pengabdian sebagai wujud kerinduan ingin bertemu dengan sumber seni itu sendiri. Para seniman pun ingin menyatu dengan seni karena sesungguhnya setiap insan di dunia ini adalah percikan seni. Selain itu juga berkembang pertunjukkan seni yang bersifat menghibur. Maka di Bali, berdasarkan sifatnya seni digolongkan menjadi seni wali yang disakralkan dan seni yang tidak sakral (disebut profan) yang berfungsi sebagai tontonan atau hiburan saja. Pada seni tari, tari sakral atau wali adalah tari yang dipentaskan dalam rangka suatu karya atau yadnya atau rangkaian ritual tertentu, dan tarian tersebut biasanya disucikan. Kesuciannya tampak pada peralatan yang digunakan, misalnya pada tari Pendet ada canang sari (sesajian janur dan bunga yang disusun rapi), pasepan (perapian), dan tetabuhan. Pada tari Rejang pada gelungannya serta benang penuntun yang dililitkan pada tubuh penari (khusus Rejang Renteng). Topeng Sidakarya pada bentuk tapel (topeng), kekereb (tutup…), dan beras sekar ura (bunga yang dipotong kecil-kecil untuk ditaburkan). Semuanya tidak boleh digunakan sembarangan. Kesakralan juga ada pada si penari itu sendiri, misalnya seorang penari Rejang atau penari Sang Hyang harus menampilkan penari yang masih muda, belum pernah kawin, dan belum haid. Atau penarinya harus melakukan pewintenan (upacara penyucian diri) dulu sebelum menarikan tarian sakral. Dalam sejarahnya tari wali ini sebagian besar dikaitkan dengan mitologi agama yang berkembang di daerah tertentu. Mitologi ini mungkin dibuat bersamaan atau sesudah tari wali itu diciptakan atau sebelumnya. Meskipun tarian ini diciptakan manusia, tetapi karena sudah merupakan konsensus dari masyarakat pendukungnya maka tari wali ini mendapat tempat khusus di hati masyarakat dalam kaitannya dengan keyakinan agama, terutama agama Hindu. Tari-tari wali yang tercipta di Bali mirip dengan tari-tari ritual di India. Menurut mitologi tarian-tarian wali itu diciptakan oleh Dewa Brahma, dan Dewa Siwa yang terkenal dengan tarian kosmisnya, yaitu Siwa Nata Raja. Di mana Dewa Siwa memutar dunia dengan gerakan mudranya yang berkekuatan ghaib. Setiap sikap tangan dengan gerakan tubuh memiliki makna dan kekuatan tertentu sehingga tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan rupa atau pakaian, tetapi mempunyai kekuatan sekala dan niskala. Di Bali tidak sembarang digunakan. Hanya para Sulinggih (Brahmana atau orang suci) saja yang menggunakan gerakan tangan mudra ini, karena sangat sakral. Di Bali untuk menambah kekuatan sekala dan niskala pada tarian sering disertai dengan banten-banten (sesajian) Pasupati untuk penari atau perlengkapan tari tertentu. Untuk pertunjukkan tari wali tertentu, diawali dengan sesajian dan tetabuhan agar tidak diganggu bhuta kala giraha dan bhuta kala kapiragan. Tak jarang persembahan tari dalam ritual tertentu dilakukan prosesi Pasupati, baik secara sederhana dengan menggunakan banten Pasupati atau dilakukan dengan lebih khusus, lebih besar atau istimewa untuk memohon agar si penari dibimbing sesuai dengan kehendak Ida Betara. Pasupati artinya raja gembala hewan. Maksudnya agar si penari layaknya hewan gembala yang diatur dan digembalakan sepenuhnya oleh si penggembala, yaitu Ida Betara. Maka setiap gerak-gerik penari tidak sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri, sebagian gerakannya dijiwai oleh Ida Betara yang dimohonkan. Sehingga tarian itu akan memiliki niskala (kekuatan magis). Pasupati Tari Bali diciptakan penciptanya berdasarkan insting atau naluri dalam berkesenian. Apakah dengan meniru gerakan manusia, air, pohon dan sebagainya, sehingga terangkum dalam gerakan yang memiliki nilai seni. Pada masyarakat berkebudayaan tinggi serta menjujung nilai-nilai religius agraris dan mistis seperti di Bali, gerakan tari disertai aksen-aksen tertentu yang berkekuatan ghaib. Disertai banten-banten dan mantra-mantra tertentu untuk mengundang kekuatan sekala dan niskala, sehingga mendukung dan menunjang kesakralan tarian tersebut. Tari sakral dipersembahkan dengan ritual tertentu pada hari tertentu untuk menyenangkan Ida Betara atau Hyang Kuasa sehingga berkenan memberi berkah berupa kesejahteraan sekala dan niskala (jasmani dan rohani). Misalnya barong yang ada di Pura diberi persembahan puja wali dan disolahkan atau ditarikan pada saat odalan (hari jadi Pura banjar) atau karya tertentu adalah hal yang sakral. Kesakralan akan terkait dengan ritual tertentu dan ujung-ujungnya adalah keyakinan. Sakral atau tidaknya tarian atau pertunjukan seni dapat diukur dengan beberapa kategori umum, yaitu tari sakral atau pertunjukan seni sakral tidak pernah diupah atau disewa untuk pertunjukan hiburan atau komersial. Berfungsi sebagai pelaksana atau pemuput karya. Membawa atau menggunakan perlengkapan atau peralatan yang khas. Dan orang yang akan menari juga adalah orang pilihan, baik secara skala melalui pemilihan dan persetujuan dari masyarakat pendukungnya atau melalui metuwunan yaitu dengan memohon petunjuk niskala baik dengan cara kerauhan (upacara penitisan sebagai sarana untuk menerima wahyu dari Hyang Widhi, biasanya orang-orang tertentu saja yang mengalami), dan sebagainya. Contoh : Tari Pendet, tari Baris Gede, tari Rejang, tari Sang Hyang, tari Topeng Dalem Sidakarya, tari Ketekok Jago, pertunjukan Wayang Lemah, dan Wayang Sapuh Leger. Ada juga tari atau pertunjukan seni tidak sakral (tari atau pertunjukan seni profan) yang bisa diupah atau disewa, berfungsi sebagai hiburan atau pendukung acara tertentu, tidak harus menggunakan peralatan atau perlengkapan tertentu yang bersifat sakral. Contoh : Joged Bumbung. Seni tari Bali pada umumnya dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu tari wali atau tari seni pertunjukan sakral, tari bebali atau seni tari pertunjukan upacara dan juga untuk hiburan pengunjung, dan tari balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung. Pakar seni tari Bali, I Made Bandem Wijaya, pda awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tarian Bali tersebut, antara lain yang tergolong ke dalam tari wali seperti Berutuk, Sang Hyang, Dedari, Rejang, Baris Gede, Sang Hyang Jaran, Janger. Tari bebali antara lain tari Topeng, Gambuh, Topeng Pajegan, Wayang Wong, dan tari balih-balihan misalnya tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Pendet, Kecak. Tari Pendet. Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif. Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Tari Pendet Sakral Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya. Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47). Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya. Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Tari Pendet Penyambutan Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain. Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat. HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial.

BUDAYA BALI

BUDAYA BALI SEJARAH Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti "Kekuatan", dan "Bali" berarti "Pengorbanan" yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik. DESKRIPSI LOKASI Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit). UNSUR – UNSUR BUDAYA A. BAHASA Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus. B. PENGETAHUAN Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan. C. TEKNOLOGI Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa. D. ORGANISASI SOSIAL a). Perkawinan Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita. Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang. b). Kekerabatan Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan. c). Kemasyarakatan Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan. E. MATA PENCAHARIAN Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan. F. RELIGI Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India. Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri. Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia. G. KESENIAN Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film. NILAI-NILAI BUDAYA 1. Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya. 2. Nguopin : gotong royong. 3. Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama. 4. Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex. ASPEK PEMBANGUNAN Di Bali jenis mata pencahariannya adalah bertani disawah. Mata pencaharian pokok tersebut mulai bergeser pada jenis mata pencaharian non pertanian. Pergeseran ini terjadi karena bahwa pada saat sekarang dengan berkembangnya industri pariwisata di daerah Bali, maka mereka menganggap mulai berkembanglah pula terutama dalam mata pencaharian penduduknya. Sehingga kebanyakan orang menjual lahannya untuk industri pariwisata yang dirasakan lebih besar dan lebih cepat dinikmati. Pendapatan yang diperoleh saat ini kebanyakan dari mata pencaharian non pertanian, seperti : tukang, sopir, industri, dan kerajinan rumah tangga. Industri kerajinan rumah tangga seperti : me mimpin usaha selip tepung, selip kelapa, penyosohan beras, usaha bordir atau jahit menjahit.

Acara Ngaben Bali

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kematian atau seseorang meninggal, berarti hubungan dengan dunia nyatanya telah putus, ia dikatakan kembali ke alam baka / ke akhirat. Ida hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta kelahiran dan kematian yang berwenang menentukan status batas usia, yang tidak dapat diramal oleh manusia biasa, kapan waktunya yang tepat seseorang berpulang kedunia akhirat.
Didalam perjalanan kematian tersebut diatas tidak ada ketentuan yang pasti terhadap seseorang tidak ada pilih kasih, tidak ada perbedaan kaya ataupun miskin, juga perbedaan pejabat atau bukan pejabat, ayah apa anak, kakek apa cucu, dokter apa pasien, semuanya akan berjalan kelak menuju kearah kematian sesuai dengan kehendak takdir, yang diembel-embeli pula dengan perbuatan serta karmanya.
Jadi mati adalah suatu keharusan dari hidup manusia yang kemudian masing-masing bangsa, masing-masing agama, masing-masing suku mempunyai cara-cara tersendiri untuk memberikan penghormatan terakhirnya sebagai manusia yang memiliki peradaban budaya.
Khususnya di Bali dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku, mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran secara ringkas dan jelas tentang segala sesuatu mengenai Upacara adat Ngaben. Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.
Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi kea lam pitra. Oleh karenanya ngaben tidak bias ditunda-tunda, mestinya begitu meninggal segera harus diaben. Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu kala, dimana dalam waktu yang singkat sudah diaben, tidak ada upacara yang menjelimet, hanya perlu Pancaka tempat pembakaran, kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun. Agama Hindu di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya para sanak keluarga, menunggu dewasa (hari baik) menurut sasih dll, tetapi tidak boleh lewat dari setahun. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben sederhana yang telah ditetapkan dalam Lontar, sesungguhnya ngaben akan dapat dilaksanakan oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimana juga. Yang penting tujuan utama upacara ngaben dapat terlaksana. Sementara menunggu waktu setahun untuk diaben, sawa (jenasah / jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal) harus dipendhem (dikubur) disetra (kuburan). Untuk tidak menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, sawa pun dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas. Dan proses pengembalian Panca Maha Bhuta terutama Unsur Prthiwinya akan berjalan dalam upacara mependhem ini.
BAB II
PERMASALAHAN
Ngaben selalu berkonotasi pemborosan, karena tanpa biaya besar kerap tidak bisa ngaben. Dari sini muncul pendapat yang sudah tentu tidak benar yaitu : Ngaben berasal dari kata Ngabehin, artinya berlebihan. Jadi tanpa mempunyai dana berlebihan, orang tidak akan berani ngaben. Anggapan keliru ini kemudian mentradisi. Akhirnya banyak umat Hindu yang tidak bisa ngaben, lantaran biaya yang terbatas. Akibatnya leluhurnya bertahun-tahun dikubur. Hal ini sangat bertentangan dengan konsep dasar dari upacara ngaben itu.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka timbulah beberapa permasalahan, antara lain :
  1. Apa  sesungguhnya ngaben itu ?
  2. Apakah ngaben selalu menggunakan dana yang besar ?
  3. Apakah tidak ada jenis ngaben yang dapat dilakukan dengan penyediaan dana yang kecil ?
  4. Mengapa tidak semua orang dapat diaben ?
  5. Apakah landasan filosofi dari upacara ngaben?
  6. Apa maksud dan tujuan diadakannya upacara ngaben?
Dari beberapa penelusuran terhadap berbagai lontar di Bali, ngaben ternyata tidak selalu besar. Ada beberapa jenis ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan sawa wedhana. Semua jenis ngaben ini, akan Tim coba uraikab dalam makalah ini sehingga pembaca mendapatkan gambaran, bila ngaben tidak selalu merupakan pemborosan. Ngaben juga bisa dilakukan secara sederhana. Banyak sastra yang mengatakan semua jenis ngaben tersebut merupakan suatu yang utama. Sebab itu merupakan usaha penyucian sehingga kembali ke asalnya.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.
Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku dayak, di kalimantan yang disebut tiwah. Demikian juga di Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara setelah kematian itu.
Upacara ngaben atau meyanin, atau juga atiwa-atiwa, untuk umat Hindu di pegunungan Tengger dikenal dengan nama entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada upacara pokok ngaben di Bali. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam pitara.
Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.
Tempat untuk memproses menjadi tanah disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon. Tunon berasal dari kata tunu yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal dari kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah setra atau sema. Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti Durga. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini.
Diantara pendapat diatas, ada satu pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu berasal dari kata “api”. Kata api mendapat presfiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi “ngapen”. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”. Dengan demikian kata Ngaben berarti “menuju api”.
Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti).
Sesungguhnya ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini disebut “mralina”.
Di antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin karena api praline dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api, melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila tanem atau mratiwi”. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan api (sekala). Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda Sulinggih dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas.
Lepas dari persoalan api mana yang lebih penting. Khusus tentang kehadiran api sekala adalah berfungsi sebagai sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula sarira (badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke Panca Mahabhuta Agung yaitu alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah. Tentunya setelah melalui upacara “mamukur” yang merupakan kelanjutan dari “Ngaben”.
B. Landasan Filosofis
Manusia terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia ituterdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira, Suksma Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Cinta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh).
Ragha sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu prthiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Prthiwi adalah unsur tanah, yakni bagian-bagian badan yang padat, apah adalah Zat Cair, yakni bagian-bagian badan yang cair ; seperti darah, kelenjar, keringat, air susu dll. Teja adalah api yakni panas badan (suhu), emosi. Bayu adalah angin, yaitu nafas. Dan yang Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.
Proses terjadinya Ragha Sarira atau badan kasar adalah sebagai berikut : sari-sari Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam rasa yang disebut sad rasa yaitu Madhura (manis), Amla (asam), Tikta (pahit), Kothuka (pedas) , kyasa (sepet) dan lawana (asin). Sad rasa tersebut dimakan dan diminum oleh manusia, dimana didalam tubuh diproses disamping menjadi tenaga, ia menjadi kama. Kama bang (Ovum / sel telur) dan kama putih (sperma). Dalam pesanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pengentalan menjadilah ia janin, badan bayi. Sisanya menjadi air nyom, darah lamas (kakere) dan ari-ari.
Percampuran kedua kama ini dapat menjadi janin, bilamana atma masuk atau turun kedalamnya. Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini, ketika ibu dan bapak dalam keadaan lupa, dalam asyiknya menikmati rasa. Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra, yakni benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira, yakni Citta, Manah, Indriya dan Ahamkara. Citta terdiri dari tiga unsur yaitu disebut Tri Guna, yaitu Sattwam, Rajas, Tama. Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. Manah adalah alam pikiran dan perasaan, indriya alam keinginan dan ahamkara adalah alam keakuan. Unsur-unsur tersebut disebut Suksma Sarira. Alam transparan ini dapat merekam dan menampung hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. Bekas-bekas ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma (roh) yang akan pergi ke alam pitra.
Ketika manusia itu meninggal Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma (roh).
Untuk tidak terlalu lama atma terhalang perginya , perlu badan kasarnya di upacarakan untuk mempercepat proses kembalinya kepada sumbernya dialam yakni Panca Maha Bhuta. Demikian juga bagi sang atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben.
Kalau upacara ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut Bhuta Cuwil, dan Atmanya akan mendaptkan Neraka, seperti dijelaskan :
“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi salawasnya tan kinenan widhi-widhana, byakta matemahan rogha ning bhuana, haro haro gering mrana ring rat, etemahan gadgad”
Artinya
“kalau orang mati ditanam pada tanah, selamnya tidak diupacarakan diaben, sungguhnya  akan menjadi penyakit bumi, kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya)….”(lontar Tatwa Loka Kertti, lampiran 5a).
Landasan pokok ngaben adalah lima kerangka agama Hindu yang disebut Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah :
  1. Ketuhanan / Brahman : Brahman merupakan asal terciptanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Beliau juga merupakan tujuan akhir kembalinya semua ciptaan itu. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha dirumuskan secara singkat dengan kalimat Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya beliau sebagai asal dan kembalinya alam semesta beserta semua isinya. Berdasarkan atas keyakinan inilah, upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan semua unsur yang menjadikan manusia ke asalnya. Sebagaimana juga tujuan dari Agama Hindu yaitu Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma yang berarti bahwa tujuan tertinggi agama Hindu adalah mencapai Moksa. Dimana Moksa dapat diartikan sebagai proses menyatunya Atma dengan Brahman atau dengan istilah Atman Brahman Aikyam, konsep Agama Hindu adalah untuk kembali menyatu dengan sang pencipta (Brahman / Tuhan), dimana Tuhan merupakan asal semua kehidupan.
  2. Atman (roh) : Keyakinan akan adanya Atma pada masing-masing badan manusia. Ia yang menghidupkan semua mahkluk termasuk manusia. Atma merupakan setetes kecil (atum) dari Brahman. Suatu sat setelah tiba waktunya, ia pun akan kembali kepada asalnya yang suci, atma perlu disucikan. Hal inilah yang memerlukan upacara.
  3. Karma : Manusia hidup tidak bisa lepas dari kerja. Kerja itu ada atas dorongan suksma sarira (Budi, Manah, Indria, dan Aharalagawa) setiap kerja akan berpahala. Kerja yang baik (Subha karma) berpahala baik pula. Kerja yang buruk (Asubha karma) akan berakibat keburukan pula. Pahala karma ini akan menjadi beban atma akan kembali keasalnya. Lebih-lebih buah karma yang buruk. Ia merupakan beban atma yang akan menghempaskan ke alam bawah (Neraka). Oleh karena itu manusia perlu berusaha untuk membebaskannya. Bagi para Yogi ia mampu membebaskan dosa-dosanya tanpa bantuan sarana dan prasarana orang lain. Tapi bagi manusia biasa, ia memerlukan pertolongan. Hal-hal inilah yang menyebabkan perlunya upacara Ngaben itu, yang salah satu aspeknya akan menebus dan menyucikan dosa-dosa itu.
  4. Samsara : artinya penderitaan. Atma lahir berulang-ulang ke dunia ini. Syukur kalau lahirnya menjadi manusia utama, atau setidak-tidaknya menjadi manusia. Adalah sangat menderita kalau lahir menjadi binatang. Oleh karena itu perlu dilaksanakan upacara ngaben, yang salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan atma untuk dapat kembali ke asalnya. Hal ini disimbolkan dengan tirtha pangentas dan aksara-aksara kelepasan lainnya seperti rurub kajang, recedana, dan lain-lain.
  5. Moksa : artinya kebahagiaan abadi. Inilah yang menjadikan tumpuan harapan semua manusia. Dan inilah menjadi tujuan Agama Hindu. Demi tercapainya moksa itu, atma harus disucikan. Dosa-dosanya harus dibebaskan. Keterikatannya dengan duniawi harus diputus, kemudian terakhir Ia harus dipersatukan dengan sumbernya. Inilah menjadi konsep dasar upacara ngaben, memukur dan terakhir Ngalinggihang Dewa Hyang pada sanggah Kamulan atau Ibu Dengen. Hal ini mengandung arti Atma bersatu dengan sumbernya (Kamulan Kawitan) atau kata lain mencapai Moksa (kendatipun ini hanyalah usaha dan khayalan pretisantana).
C. Unsur Metafisika dalam Ngaben
Setelah mengetahui maksud dan tujuan serta landasan filosofis. Penulis akan mencoba mengungkapkan unsur metafisika yang terdapat dalam upacara ngaben. Berangkat dari ontologi (metafisika umum) yang berusaha menjawab persoalan dan menggelar gambaran umum tentang struktur yang ada atau realitas berlaku mutlak untuk segala jenis realitas (yang ada). Realitas yang mendasar yang diyakini sebagai sumber dan makna itu oleh Sontag (1970:4) disebut sebagai “prinsip utama” ( the first principle ). Setiap filsuf atau aliran dalam memahami prinsip pertama menggunakan cara-cara yang berbeda, oleh karena itu dalam pemikiran filsafat kita menemukan beberapa model pendekatan, dari yang tradisional sampai yang paling kontemporer. Pendekatan itu berkembang dari model pemikiran kosmosentris, theosentris, antroposentris, logosentris, dan ke gramatologisentris. Masing-masing memiliki watak, titik pijak, perspektif, dan orientasi yang berbeda.
Telah ditetapkan bahwa dalam upacara ngaben dianggap sebagai “simbolis pengantar atma (jiwa) ke alam pitra (baka)”. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang lalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben. Oleh karena itu “proses pengantaran atma (jiwa) ke alam pitra (baka)” tersebut merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.
D. Dasar Hukum
Ngaben merupakan salah satu upacara adat Umat Hindu yang masuk ke dalam ruang lingkup upacara Pitra Yajna. Dimana yang dimaksud dengan Pitra Yajna adalah persembahan suci kepada leluhur. Pitra Yajna berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur, yajna yang berasal urat kata yaj yang berarti berkorban. Leluhur dimaksud adalah Ibu Bapak, kakek, buyut, dan lain-lain yang merupakan garis lurus ke atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak ada karena Kakek dan Nenek, begitu seterusnya. Jadi kita ada atas jasa mereka. Kita telah berhutang kepada mereka. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rna. Hutang ini harus dibayar, membayar utang kepada leluhur dengan melaksanakan pitra yajna. Jadi pitra yajna merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur. Hal inilah yang menjadi dasar hukum dari pada Pitra Yajna itu.
Upacara menghormati leluhur dalam Agama Hindu di kenal dengan istilah Sradha. Hal ini dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra sebagai berikut : “Upacara Pitra Yajna yang harus kamu lakukan Hendaknya setiap harinya melakukan sraddha dengan mempersembahkan nasi atau dengan air dan  susu, dengan umbi-umbian . Dan dengan demikian Ia menyenangkan para leluhur.” (M.D.S.I.82).
E. Jenis – jenis Ngaben Sederhana
1. Mendhem Sawa
Mendhem sawa berarti penguburan mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk ditunda sementara, dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan. Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi, yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja alasan ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini. Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara dapat merunduk pada prthiwi dulu. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka dapat mencium bunda prthiwi. Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati harus segera di aben. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).
2. Ngaben Mitra Yajna
Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa, karena tidak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tidak disebutkan nama jenis ngaben ini. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna.
Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, terutama mengenai upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik).
3. Pranawa
Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama jenis ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti sampai ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, seperti yang telah diuraikan.
4. Pranawa Bhuanakosa.
Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal walaupun pernah ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.
5.   Swasta
Swasta artinya lenyap atau hilang. Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng hinulatan), tidak dapat dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra, dan lain-lainnya, semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Walaupun orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot, air sebagai daging, balung cendana 18 potong. Pranawa sebagai suara, ambengan (jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga hidup. Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, dapat dilakukan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem.
F. Ngaben Sarat
Ngaben Sarat adalah Ngaben yang diselenggarakan dengan semarak, yang penuh sarat dengan perlengkapan upacara upakaranya. Upacara ngaben sarat ini memerlukan dukungan dana dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ngaben sarat dilakukan baik terhadap sawa yang baru meninggal maupun terhadap sawa yang telah dipendem. Ngaben sarat terhadap sawa yang baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sedangkan ngaben sarat terhadap sawa yang pernah dipendem disebut Sawa Wedhana. Baik sawa prateka maupun sawa wedhana memerlukan perlengkapan upacara bebanten dan sarana penunjang lainnya yang sangat besar atau banyak. Semua itu dipersiapkan dalam kurun waktu yang panjang serta memerlukan tenaga penggarap yang besar. Karena itulah terhadap kedua jenis ngaben ini disebut Ngaben Sarat.
  1. Kondisi Umat Hindu dimasa lalu
Pada masa lalu, lebih-lebih sebelum masa kemerdekaan, umat Hindu kondisinya sangat lemah. Sebagai masyarakat Agraris mereka berpenghasilan sangat rendah. Pemahaman terhadap Agama Hindu sangat rendah. Lebih-lebih ketika itu, ajaran Agama masih tabu untuk dipelajari secara umum. Motto away wera yang disalahtafsirkan menghantui pikiran umat. Akibatnya pemahaman Agama Hindu sangat rendah. Pengertian Ngaben disalah artikan dimana Ngaben adalah identik dengan Ngabehin. Kalau tidak mempunyai dana yang besar umat tidak akan berani ngaben. Umat tidak mengenal ada bentuk ngaben sederhana. Lalu mereka jarang sekali ngaben. Kalau toh ada ngaben mereka pasti golongan mekel, golongan menak, keluarga Puri, atau Geria.
Sewaktu-waktu umat kebanyakan juga ikut ngaben. Namun secara kolektif, baik dengan cara ngiring (ikut / numpang) pada puri atau pun geria; kadang kala dari masyarakat yang berpikiran agak maju, melaksanakan ngaben kolektif yang disebut Ngagalung. Biasanya disponsori oleh banjar. Akibat dari semua itu, sawa leluhur lama terpendam. Bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip ngaben.
  1. Kondisi umat Hindu masa sekarang.
Masyarakat sekarang telah measuki era Industrialisasi. Khususnya Bali adalah Industri Pariwisata. Masyarakat Industri adalah masyarakat yang penuh dengan kesibukan. Pendapatan masyarakat semakin meningkat. Pemahaman terhadap ajaran agama juga semakin meningkat, pelaksanaan upacara menjadi semakin semarak. Dengan pendapatan yang tinggi maka semakin bergairah dalam melaksanakan ibadah agamanya. Bagi Agama Hindu melaksanakan upacara agama termasuk ngaben kelihatan makin semarak saja. Setiap orang mati kebanyakan diaben. Ada yang mengambil ngaben sederhana dan ada juga yang mengambil jenis pengabenan sarat. Disisi lain akibat dari dampak pengaruh industri pariwisata, adalah penyempitan waktu. Hidup gotong royong seperti masa lalu mulai terancam. Kalau ada tetangga yang ngaben, tanpa diundang dia datang untuk membantu bekerja. Tapi sekarang tanpa di undang ia tidak akan datang. Kalau toh diminta paling-paling bisa membantu 1 s/d 2 kali saja. Syukurlah masyarakat Hindu di Bali masih mempunyai Banjar. Banjar adalah suatu lembaga adat yang andal untuk mempertahankan kebersamaan dan gotong-royong. Melalui banjar umat Hindu yang ngaben dapat mengharapkan bantuan warganya. Hanya beberapa kali mereka dapat meminta gotong-royong banjar. Ternyata lembaga banjar ini masih sangat efektif untuk membantu pelaksanaan ngaben.
Jenis-jenis Ngaben Sarat :
Jenis-jenis Ngaben Sarat tergantung jenis sawa (jenasah) yang diupakarakan yaitu Sawa Prateka dan Sawa Wedhana.
  1. Bilamana sawa yang diupakarakan itu baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sawa Prateka adalah jenis ngaben untuk sawa (mayat) yang baru meninggal belum sempat diberikan upacara penguburan. Bila disimpulkan yaitu begitu atma atau urip meninggalkan badan, sawanya lalu diupacarakan di rumah seperti dimandikan, diperciki tirta pemanah, dihidangkan saji tarpana, dengan lebih dulu atma itu disuruh kembali sementara pada badannya terdahulu. Jadi di rumah betul sawanya yang diupakarakan. Inilah yang disebut Sawa Prateka.
  2. Sedangkan terhadap sawa yang telah pernah dikubur (di pendhem) lalu di aben disebut Sawa Wedhana. Sawa Wedhana adalah jenis ngaben yang dilakukan untuk mayat yang telah mendapatkan upacara penguburan (ngurug). Adapun sawa yang telah ditanam di Setra namanya makingsan, dititipkan pada tanah. Atma itu dipegang oleh Bhatari Durga. Pimpinan setra. Demikian prihalnya sawa yang ditanam. Pada Waktu pengupacarakan sawa itu namanya sawa Wedhana. Tiga hari menjelang pengabenan ada upakarannya yang disebut ngulapin. Sawa yang telah pernah dipendhem disebut tawulan. Tawulan ini tidak ikut diupacarakan lagi tawulan ini diganti dengan pengawak, yang terbuat dari kayu cendana atau kayu mejegau yang panjangnya satu lengkat satu hasta. Dan lebarnya empat jari. Cendana ini digambari orang-orangan sebagai pengganti sawa. Pengawak ini disebut sawa karsian. Upacara ngaben jenis ini juga disebut Sawa Rsi.
G. Pembagian Ngaben Menurut Caranya
Selain pembagian ngaben menurut jenis ngaben diatas baik ngaben sederhana maupun ngaben sarat, adapula pembagian ngaben dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu :
1. Ngaben Langsung
Ngaben Langsung Artinya, Upacara ini langsung dilakukan setelah orang itu meninggal. Ini biasanya dilakukan bagi mereka yang boleh dikatakan mampu untuk urusan ekonominya. Pada umumnya upacara ngaben dari persiapannya membutuhkan waktu yang agak lama, minimal kira-kira 10 hari, itupun jika “hari baik” berdasarkan hitungan kalerder Bali sudah dapat ditentukan / dipilih. Sementara itu biasanya mayat dari orang yang meninggal akan diawetkan terlebih dahulu, baik dengan cara pembekuan (es), atau dengan zat kimia lainnya.
2. Ngaben Massal (ngerit)
Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara bersama-sama dengan banyak orang. Di masing-masing desa di Bali biasanya mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Ada yang melakukan setiap 3 tahun sekali, ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya. Bagi masyarakat yang kurang mampu, ini adalah pilihan yang sangat bijaksana, karena urusan biaya, sangat bisa diminimalkan. Biasanya mereka yang mempunyai keluarga meninggal dunia, akan di kubur terlebih dulu. Pada saat acara ngaben masal inilah, kuburan itu digali lagi untuk mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari mayat tersebut. Sisa tulang atau yang lain, akan dikumpulkan dan selanjutnya dibakar.
Prosesi upacara ngaben selanjutnya, setelah pembakaran mayat, abunya kemudian dibuang ke laut. Dilanjutkan dengan upacara penjemputan arwah di laut tersebut, sebelum akhirnya ditempatkan di pura keluarga masing-masing. Disinilah biasanya seperti dijelaskan dihalaman lain tentang pura keluarga masyarakat hindu di Bali, disamping fungsinya untuk memuja tuhan juga untuk memuja para leluhurnya.
H. Hari Baik atau Dewasa Ngaben
Pada hakekatnya saat yang baik (dewasa) adalah merupakan repleksi dari adanya pengaruh alam besar (Buana Agung) terhadap kehidupan alam kecil dengan alam besar (Makrokosmos) itu. Adanya pengaruh alam besar terhadap kehidupan manusia serta akibat dari pengaruh saling berhubungan itu betul-betul diperhatikan oleh setiap umat Hindu dalam melakukan usaha terutama dalam melakukan upacara yajna, dalam hal ini ngaben.
Bergeraknya matahari ke utara atau keselatan dari bulatan bumi yang sesuai dengan penglihatan manusia, seperti dapat dilihat sepanjang tahun membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan di Bumi, lahir bathin. Bergeraknya matahari inilah yang menjadi patokan pesasihan dalam ilmu wariga itu. Dan pesasihan merupakan dasar pokok dari dewasa, khususnya dewasa ngaben sarat.
Bila kita perhatikan keadaan sasih yang disebabkan pergeseran matahari ke utara ke selatan (secara pandangan manusia) maka akan terlihatlah bagian-bagian sasih-sasih itu serta kegunaannya untuk upacara apa tepatnya, sesuai dengan petunjuk dalam lontar-lontar di Bali.
I. Upacara Adat Ngaben di Desa Trunyan Bali.
Terletak di pinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit, Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kuna dan Bali Aga (Bali asli). Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi sumber bau. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung. Di sanalah kemudian mereka kawin dan secara kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu. Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini berada di Kecamatan Kintamani, Daerah Tingkat II Bangli. Ternyata tidak semua umat Hindu di Bali melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. Di Trunyan, jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan. Trunyan adalah desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). Trunya memiliki banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah warganya. Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang menurut tradisi desa Trunyan, ketiga jenis kuburan itu di- klasifikasikan berdasarkan umur orang yang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburan yaitu :
1.   Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah.
Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan).
2.   Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.
3.   Kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan, bunuh diri).
Dari ketiga jenis kuburan tersebut yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. Untuk membawa jenasah ke kuburan harus menggunakan sampan kecil khusus jenasah yang disebut Pedau. Meski disebut dikubur, namun cara penguburannya unik yaitu dikenal dengan istilah mepasah. Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisi setempat diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20 cm. Sebagian badannya dari bagian dada ke atas, dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut, digunakan untuk memagari jenasah. Di Setra Wayah ini terdapat 7 liang lahat terbagi menjadi 2 kelompok. Dua liang untuk penghulu desa yang jenasahnya tanpa cacat terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejer setelah kedua liang tadi yaitu untuk masyarakat biasa.
Jika semua liang sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur, jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah barulah yang menempati lubang tersebut. Jenasah lama, ditaruh begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan tengorak-tengkorak manusia yang tidak boleh ditanam maupun dibuang. Meski tidak dilakukan dengan upacara Ngaben, upacara kematian tradisi desa Trunyan pada prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuan upacara kematian yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali lainnya. Upacara dilangsungkan untuk membayar hutang jasa anak terhadap orang tuanya. Hutang itu dibayarkan melalui dua tahap, tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian.
BAB IV
PENUTUP
Dari semua uraian dan penjelasan Upacara Ngaben, sebagai penutup dapatlah disimpulkan sebasgai berikut :
Ngaben adalah upacara pemberian beya atau bekal bagi roh untuk kembali kepada asalnya, dan pembakaran mayat, tawulan atau awak-awakan Sawa (jenasah) untuk mempercepat proses kembalinya unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya.
Ngaben dapat dibagi dua yakni ngaben sarat dan ngaben sederhana yakni ngaben yang dilakukan dengan cara sangat sederhana. Ngaben ini terdiri dari : Mitra Yajna, Pranawa, Swasta, dll. Ngaben sarat adalah ngaben yang penuh sarat dengan perlengkapan-perlengkapan upakara bebanten dan peralatan lainnya. Ngaben sarat ini terdiri dari dua jenis yakni sawa prateka dan sawa wedhana.
Kendatipun ada perbedaan dalam materi, maupun manfaat kedua jenis ngaben ini sama saja (utama juga ia, wenang ingangge der sang catur janma).
Upacara ngaben dilandasi oleh pemikiran akan hakekat kehidupan sebagai manusia, yang berasal dari Tuhan untuk kembali kepada Tuhan.
Untuk tercapainya tujuan Ngaben dengan semaksimal telah ditentukan adanya hari-hari baik (dewasa).
Semua peralatan dan sarana Ngaben terutama sekali pada Ngaben Sarat, adalah merupakan simbol-simbol yang bermakna.
Ngaben adalah merupakan swadharma pretisantana untuk menunukkan rasa bakti yang mendalam terhadap leluhurnya.
Meninggal yang tidak wajar dalam umat Hindu dikenal dengan istilah Salah Pati (dicari mati seperti contohnya : kecelakaan), dan Ulah Pati (mencari mati seperti contohnya bunuh diri).
Demikianlah penjelasan tentang upacara ngaben yang merupakan suatu proses ritual yang dilakukan oleh masyarakat bali. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat penjelasan etimologi dan terminologi, maksud, tujuan, landasan folosofis dan unsur metafisika dalam upacara dan proses ngaben.

Barack Obama

video
Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya tiba di Bali. Pesawat Air Force One yang membawa Presiden Obama mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Kamis (17/11) sekitar pukul 17.25 WITA.

Sabtu, 19 November 2011

Bandara di bali

bali_airport1
Bandar Udara Ngurah Rai dibangun pada tahun 1931 dengan landasan dari rumput ditengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Kemudian pada tahun 1941 – 1947 diadakan perbaikan   dan perpanjangan landasan menjadi 45 M x 1600 M dan diberi nama PELABUHAN UDARA TUBAN karena berlokasi di desa Tuban.
Pada tahun 1949 mulai dibangun gedung terminal dan  fasilitas penerbangan lainnya. Sedangkan pelayanan penerbangan internasional di mulai sejak tahun 1959 dan pengakuan dari ICAO (International Civil Aviation Organitation) baru didapat pada tahun 1963. Dari tahun 1965 sampai dengan tahun 1969 dilaksanakan pembangunan Gedung Terminal Internasional serta perpanjangan landasan pacu sehingga menjadi 45 M x 2.700 M dengan cara mengurug laut sampai sejauh sekitar 1000 meter.
Penyelesaian pekerjaan ini ditandai dengan sebuah acara peresmian pada tanggal 1 Agustus 1969 oleh Presiden Soeharto dan sekaligus merubah nama Pelabuhan Udara Tuban menjadi PELABUHAN UDARA INTERNASIONAL NGURAH RAI – BALI. Untuk mengantisaipasi lonjakan penumpang dan cargo maka pada tahun 1975 sampai dengan tahun 1978 kembali dibangun gedung Terminal Internasional baru. Sedangkan Terminal Internasional lama diubah menjadi Terminal Domestik dan Terminal Domestik lama digunakan  sebagai Gedung Cargo dan Gedung Catering.
Pada tanggal 1 Oktober 1980 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.26 tahun 1980, pengelolaan Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai dialihkan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara kepada PERUM ANGKASA PURA. Sejak saat itu fasilitas Pelabuhan Udara (Apron, gedung terminal, dan lain-lain) tahap demi tahap dikembangkan oleh PERUM ANGKASA PURA,  yang pada tahun 1986 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1986 berubah nama menjadi PERUM ANGKASA PURA I. Sedangkan istilah Pelabuhan Udara diubah menjadi BANDAR UDARA berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No.213/HK.207/Phb-85 pada tanggal 1 September 1985.
Pulau Bali dengan daya tarik pariwisatanya yang luar biasa kembali menuntut pengembangan fasilitas Bandara. Proyek Pengembangan Bandar Udara Ngurah Rai Tahap I dilaksanakan sejak tanggal 1 Oktober 1989 sampai dengan 31 Agustus 1992 yang meliputi pekerjaan-pekerjaan perpanjangan landasan-pacu menjadi 3.000 M, relokasi taxiway, perluasan apron, pengembangan Gedung Terminal Penumpang dan Cargo serta pengembangan fasilitas navigasi udara dan fasilitas  catu bahan bakar pesawat udara. Dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No.5 tahun 1992 maka Perum Angkasa Pura I dialihkan bentuknya menjadi PT. (Persero) ANGKASA PURA I. Aktivitas usaha dilakukan   di Bandar Udara mulai dari penyediaan fasilitas penerbangan sampai dengan jasa penunjang penerbangan dan kebandarudaraan. Proyek tahap II dilaksanakan pada tanggal 10 Pebruari 1998 dan direncanakan selesai  sepenuhnya Juni 2000.
Sumber artikel dan foto : http://baliairport.ngurahrai-airport.co.id//index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=96
 Pulau Bali memiliki dua bandara di mana salah satunya adalah Bali Ngurah Rai, yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Denpasar, terletak di selatan Bali, sekitar  13 km dari kota Denpasar. Ini adalah bandara internasional ketiga tersibuk di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno – Hatta – Jakarta dan Bandara Internasional Juanda – Surabaya. Nama bandara ini diambil dari pahlawan Bali I Gusti Ngurah Rai yang berjuang melawan Belanda selama perang revolusi di tahun 1945.
Setiap tahun, Bali Ngurah Rai International Airport melayani lebih dari lima juta penumpang dan memiliki total sekitar 25 maskapai penerbangan yang berbeda, dengan armada dari Indonesia dan Internasional.
Di Bandara Ngurah Rai Bali Internasional memiliki dua terminal, salah satunya adalah terminal Domestik, terletak di bangunan tua dengan hanya 3 pintu, 35 loket check in dan 2 bagasi carousels. Satunya lagi adalah terminal internasional dengan 14 gerbang, di mana delapan pintu gerbang dengan jembatan aero.
Di bawah ini adalah situs Internasional Bali:
  • Luas total terminal 265,60 Ha.
  • Area parkir 38,358 m².
  • Domestik Kedatangan dan Keberangkatan Terminal Area: 9,039 m²
  • Internasional Kedatangan dan Keberangkatan Terminal Area: 28,630 m²
Bandara lain terletak di Kabupaten Buleleng yang bernama Letkol Wisnu, sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Denpasar. Hanya pesawat kecil atau penerbangan  yang disewa dapat mendarat di bandara ini. Bandar Udara Letkol Wisnu ini belum berkembang untuk menjadi bandara Internasional atau disediakan dengan layanan internasional seperti bandara Ngurah Rai Internasional karena saat ini masih merupakan pusat pendaratan pesawat Internasional, mungkin di masa depan, bandara ini akan dikembangkan lagi untuk meningkatkan pengunjung di Bali utara

Pantai Kuta

Pantai Kuta adalah sebuah tempat pariwisata yang terletak di sebelah selatan Denpasar, ibu kota Bali, Indonesia. Kuta terletak di Kabupaten Badung. Daerah ini merupakan sebuah tujuan wisata turis mancanegara, dan telah menjadi objek wisata andalan Pulau Bali sejak awal 70-an. Pantai Kuta sering pula disebut sebagai pantai matahari terbenam (sunset beach) sebagai lawan dari pantai Sanur.

Di Kuta terdapat banyak pertokoan, restoran dan tempat permandian serta menjemur diri. Selain keindahan pantainya, pantai Kuta juga menawarkan berbagai macam jenis hiburan lain misalnya bar dan restoran di sepanjang pantai menuju pantai Legian. Rosovivo, Ocean Beach Club, Kamasutra, adalah beberapa club paling ramai di sepanjang pantai Kuta.

Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup bagus untuk olahraga selancar (surfing), terutama bagi peselancar pemula. Lapangan Udara I Gusti Ngurah Rai terletak tidak jauh dari Kuta.

Kalau ditelusiri pantai kute berdekatan dengan pantai lain nya  walaupun masih satu kawasan tetapi setiap pantai berbeda nuansanya. Kalau anda tidak percaya buktikan saja. Pantai kuta memang menjadi kawasan yang paling banyak diminati oleh kalangan turis asing maupun lokal kurang lengkap rasanya kebali tanpa menginjakan kaki dipantai yang satu ini.

Alternatif yang cukup menyenangkan memang berada dipantai kuta karena lokasinya memang pas buat Anda yang ingin berlibur dengan suasana yang ramai tak heran kalau daerah ini tak pernah sepi dari pagi sampai malam hari. kawasan ini memang tidak sepi pengunjung.  Wisata yang disediakan begitu banyak sehingga takan puas rasanya melewati setiap keindahan yang ditawarkannya.




Kalau anda berencana berlibur dikuta jangan lewatkan sunset yang terbenam pastikan anda mengabadikan moment indah tersebut dan jangan lupa mengunjungi kawasan legian untuk sekedar mencari oleh.

Selamat Berlibur



EMAIL : firdaus.zanuar@gmail.com
               firdauszanuar12@yahoo.co.id

PIN BB : 25E96BAE

Hari Saraswati Umat Hindu Bali

Kemarin , 23 April 2011, umat Hindu di Bali merayakan hari raya Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia. Semoga semuanya bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kebaikan umat bersama.
Selamat hari raya Saraswati, untuk umat Hindu yang merayakan.
Hari Saraswati di sebut juga hari Ilmu pengetahuan, dimana pada hari ini Sang Hyang Widhi  telah menciptakan Ilmu pengetahuan bagi umat manusia untuk dapat selaras dengan alam. Hari Raya Saraswati dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia setiap 6 bulan sekali ( 210 ) hari sekali , dan menurut perhitungan kalender Jawa Bali,hari Saraswati jatuh pada hari sabtu.
Awal mula arti Kata Saraswati sendiri berasal dari bahasa Sanskerta kata Sr yang artinya mengalir, jadi kalau diuraikan bermakna air yang mengalir melimpah menuju danau atau kolam, sedangkan Saraswati dalam Veda, mengandung arti dipuji dan dipuja atau mantra pujaan. Saraswati juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap dewa Visvedevah.
Saraswati digambarkan berujud seorang Dewi cantik memakai pakaian putih bertangan empat yang membawa alat music, gimetri, pustaka suci, teratai dan duduk di atas angsa, semua simbol ini mengandung arti:
  1. Pakaian Putih : Simbol dari Ilmu pengatahuan itu putih tidak tercela.
  2. Alat music : Simbol terciptanya Alam lalu muncul nada dan melodi.
  3. Gemitri/Tasbih : Simbol dari kekekalan antara ilmu pengetahuan dan tuhan.
  4. Pustaka suci : Simbol dari sumber dari segala ilmu pengetahuan.
  5. Teratai : Simbol dari Ilmu pengetahuan itu bersifat abadi.
  6. Angsa : Simbol dari kebijaksaan,karena angsa dapat memisahkan antara air dan lumpur saat dia meminum air bermanfaat  juga merupakan perlambang dari tiga kekuasa 3 di dunia  bisa di air, darat dan udara
Hari Raya Saraswati bisa disebut juga  hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari ini, seluruh  umat Hindu di bali Terutama para pamong, guru, dosen, tokoh adat, mahasiswa dan pelajar bersama bergotong royang membersihkan pusaka, lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ilmu pengetahuan, ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, lalu dikumpulkan disuatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai.Adapun sesajen yang digunakan terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.
Dalam upacara ini seluruh benda benda tersebut  diatas diberikan mantra, Setelah pemujaan terhadap  dewi Saraswati selesai, biasanya dilakukan semedhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menemukan pencerahan dari Ida Hyang Saraswati (dewi Ilmu pengetahuan ).Esok harinya semua benda benda yang sudah di berkati tersebut di atas di mandikan dan sambil memanjatkan doa ke Sang hyang Widhi agar tetap bisa digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat  dan ilmu pengetahuan khususnya.
Dari inti semua paparan artikel/tulisan diatas disimpulkan ilmu pengetahuan adalah kunci dari semua peradaban di muka bumi ini, tanpa ilmu pengetahuan dan kejernihan pikiran, kita  tidak berarti apa apa di dunia  dan di hadapan sang pencipta.


Saraswati 23 April 2011
Hari Raya Saraswati Umat Hindu Bali yang jatuh pada hari Sabtu (23/4) memiliki makna tersendiri bagi umat Hindu Bali.
Adapun makna dibalik perayaan hari raya Saraswati bagi umat Hindu di Bali ialah
1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.

2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebe-naran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.

3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.

4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.

5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.

6.Laksanakan Puja/sembahyang sesuai de-ngan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ihlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.

             Awali dengan Ganesh Mantra, 0m nama saraswati mata ya namah, Tri sandia, Gayatri Saraswati, Mantra Asatoma, Mantra Shanti Universal (Loka samasta sukino bhavantu). Bila dilaksanakan agnihotra (homa yajna) baca 108 Saraswati Nawamali dan ditutup dengan Aarati Sarasvati.
Dalam puja ini dianjurkan banyak mem-baca Gayatri Mantra (bait pertama Tri sandia) secara berulang-ulang. Demikianlah semoga vidya akan membawa kita ke perdamaian secara universal, damai di bumi, damai di langit, damai di surga, (damai semua loka).

Sumber : berbagai Artikel diblog.

















INFO KOST DIBALI

Bagi anda yang ingin berkunjung kebali berikut saya lampirkan beberapa referensi Info Kost yang mungkin dapat berguna untuk anda yang berencana kost di Bali.
_______________________________________________________________
1. Alamat : Jalan Gelogor Carik, Gang Nuri No. 14 - Pedungan Glogor Carik
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan
Fasilitas : Kamar tidur +/- 3x3 m2, kamar mandi dalam, dapur, lantai ubin / keramik
Lain-lain : belum termasuk biaya sampah, listrik dan lain lain
_______________________________________________________________
2. Alamat : Werdhi Graha..Jl. Tukad Pakerisan (Sebelah sekolah Stikes)
Harga Sewa : Rp. 1.4 juta dan Rp. 800.000
Fasilitas : Rp. 1.4 jt (Ac, TV, Air panas, Almari, Buthtub, Tempat tidur, kasur, parkir mobil, jemuran)/Rp. 800 rb (Non TV dan AC)
Lain-lain : Sebelah Sekolah STIKES
_______________________________________________________________
3. Alamat : Jalan Tukad Yeh Ayung alias Ciung Wanara, Renon, Denpasar
Harga Sewa : Rp. 900 ribu Komplit dan Rp. 500 ribu yang kosongan
Fasilitas : Yang komplit Rp. 900rb (AC /Hot Water /TV/ kasur/ lemari/ WC 2bh/ Dapur/ R.Jemur)
Lain-lain :
_______________________________________________________________
4. Alamat : Jalan Kunti II masuknya dari Sunset Road ke Jalan Kunti - II Kuta
Harga Sewa : Rp. 350 rb include listrik kamar mandi dalem di lt.2
Fasilitas : Kamar Mandi dalam
Lain-lain : Lantai 2
_____________________________________________________________
5. Alamat : Jalan Melasti,Kuta. Dekat ke pantai kuta.
Harga Sewa : Kamar ac Rp. 2,500,000 & non ac Rp. 700,000/bln.
Fasilitas : Kamar mandi dalam, AC, dll
Lain-lain : Masih ada 2 kamar kosong
_______________________________________________________________
6. Alamat : Jl. By Pass Ngurah Rai 200F, Sanur
Harga Sewa : Rp. 1 jt/bulan
Fasilitas : Lengkap, sepi, nyaman
Lain-lain :
_______________________________________________________________
7. Alamat : Kuta/Legian
Harga Sewa : Rp. Ac: 1,5 juta dan fan: Rp. 1 juta,
Fasilitas : Kos exclusive bulanan dijantung Kuta/Legian, kamar luas dengan fasilitas hotel dan air panas , AC
Lain-lain :
_______________________________________________________________
8. Alamat : Jl. Tukad Batanghari XI Gg. II No.1 - Denpasar
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam, belum termasuk listrik
Lain-lain : Kos aman & nyaman,
_______________________________________________________________
9. Alamat : Jalan Gatot Subroto Timur.
Harga Sewa : Rp. 1jt/bulan,
Fasilitas : AC, TV, Kulkas, isi lengkap,
Lain-lain :
_______________________________________________________________
10. Alamat : Jl. Pidada X/26, Ubung - Denpasar
Harga Sewa : Rp. 360,000
Fasilitas : Kamar mandi/dapur dalam
Lain-lain :
_______________________________________________________________
11. Alamat : Jl. Jayagiri Gg. V Denpasar
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam, listrik
Lain-lain : Khusus Putri
_______________________________________________________________
12. Alamat : Jl. Katarangan No. 18 X - Denpasar Hayam Wuruk
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan Tanjungbungkak
Fasilitas : Kamar mandi dalam, listrik
Lain-lain : Khusus Putri
_______________________________________________________________
13.Alamat : Jl. Gn. Krakatau Monang Maning, Denpasar
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam, listrik
Lain-lain : Khusus Putri
_______________________________________________________________
14. Alamat : Glogor Carik, Pedungan Pedungan/
Harga Sewa : Harga +/- Rp350,000/bln Kepaon
Fasilitas : Kosongan
Lain-lain :
_______________________________________________________________
15. Alamat : Sanur (Dekat Hotel Mercure Sanur)
Harga Sewa : Rp250,000, Rp350,000,
Fasilitas : Kamar mandi dalam/luar. Kosongan atau isi tempat tidur, lemari, meja.
Lain-lain : Sanur Kos harian/bulanan di Sanur
_______________________________________________________________
16. Alamat : Jln. By pass Ngurah Rai Gang Merta Sari No 8 - Jimbaran Jimbaran
Harga Sewa : Harga /kamar/ bulan @ 300Rb, diluar listrik.
Fasilitas : kamar 3x4 m, kamar mandi dalam, ada dapur, lantai ubin
Lain-lain : (depan KFC jimbaran)
_______________________________________________________________
17. Alamat : Bunda Residen, Jalan Serma Mendre - Denpasar
Harga Sewa : Rp. 1 Juta/bulan
Fasilitas : AC, lemari, airpass, bed, tv
Lain-lain :
_______________________________________________________________
18. Alamat : Jl. Tukad Yeh Ho, Renon - Denpasar (Dekat STIKOM, Raya Puputan Denpasar)
Harga Sewa : Rp. 1.500.000,- per bulan/Bisa sewa harian
Fasilitas : AC, Springbed, almari, meja, kursi, dapur, km dalam, washtafel, Bebas listrik, bisa parkir mobil
Lain-lain : Depan SDIT Al Banna School & GOR Al Banna, ada 8 Kamar
_______________________________________________________________
19. Alamat: Jalan A.Yani - Denpasar
Harga Sewa: Rp. 500/bulan
Fasilitas : Lemari, bed, K.mandi Dalam, Meja Belajar
Lain-lain
_______________________________________________________________
20. Alamat : Jl. By Pass Ngurah Rai 200F, Sanur
Harga Sewa : Rp. 1 jutaan/bulan,
Fasilitas : Lengkap, sepi, nyaman
Lain-lain :
_______________________________________________________________
21. Alamat : Jl. By Pass Nusa Dua, Bali
Harga Sewa :
Fasilitas : Kolam renang, AC/Non AC, perabot
Lain-lain :
_______________________________________________________________
22. Alamat : Jl. Pulau Sayang No.27A - Denpasar - Teuku Umar
Harga Sewa : Rp. 350 ribu/bulan (Belum termasuk iuran banjar)
Fasilitas : Kosongan, Kamar mandi dalam, teras
Contact : Bu Emu/Bu Putu
Lain-lain :
_______________________________________________________________
23. Alamat : Jl. Gn. Lebah V No 20 Desa Tegal Harum, Monang Maning Denpasar
Harga Sewa : Rp. 250 ribu per bulan
Fasilitas : Kosongan
Lain-lain :
_______________________________________________________________
24. Alamat : Jl. Uluwatu II, Jimbaran, Badung
Harga Sewa : Rp. 350.000,- per bulan
Fasilitas : Kosongan, kamar mandi dalam
Lain-lain :
_______________________________________________________________
25. Alamat : Jl. Noja Br. Kuningan - Denpasar
Harga Sewa : Rp. 650.000,- per Bulan (Belum termasuk listrik) Gatsu
Fasilitas : Kamar Mandi Dalam, Bisa Parkir Mobil
Lain-lain : Ada 6 kamar
_______________________________________________________________
26. Alamat : Jl. Batur Sari I No.10 Denpasar Barat, Bali (Dekat Sekolah Tawakkal)
Harga Sewa : RP. 400 Ribu
Fasilitas : Kamar, Kamar Mandi dalam, Teras Depan dan Belakang, Dapur.
Lain-lain : Rumah Kos 2 Kamar Lokasi Strategis
_______________________________________________________________
27. Alamat : Jl. By Pass Ngurah Rai Tuban-Kuta Bali. (10 menit ke airport)
Harga Sewa : Rp. 1.5 Juta
Fasilitas : Kasur pring bed, meja rias, lemari pakaian 3 pintu, kulkas, kompor gas, bed side table, tv sama kipas angin.
Contact : email: lia.rujak@gmail.com
Lain-lain : Jika bayar 3 bulan sekaligus Rp. 3.750 juta
_______________________________________________________________
28. Alamat : Jl. Tkd. Yeh Biu - Sesetan (Dekat Perempatan Karya Sari)
Harga Sewa : Rp. 350 000,-
Fasilitas : KM Dalam, dan dapur kecil, (belum termasuk listrik)
Lain-lain : Sebelah jalan Tukad Banyusari
_______________________________________________________________
29. Alamat : Gelogor Carik No, 25 X (Belakang Careful Sunset Road) Sunset Road
Harga Sewa : Rp. 650.000 per bulan
Fasilitas : Kamar Mandi Dalam, Dapur Dalam
Lain-lain :
_______________________________________________________________
30. Alamat : Jl. Pedungan No. 31 Denpasar (Sebelum Pertigaan Taman Pancing Kepaon) Pedungan
Harga Sewa : Rp. 750.000,-
Fasilitas : Kamar cukup luas, Kamar mandi dalam, Dapur Dalam, Washtafel
Lain-lain : Jumlah 14 kamar
_______________________________________________________________
31. Alamat : Jl. Gelogor Carik Gg. Nuri No.6 Denpasar
Harga Sewa : Rp. 250.000,- per bulan Kepaon
Fasilitas : Kosongan, padat Sunset Road
Contact : Sukirman. Hp. 085738241888 (Ibu Sofia)
Lain-lain : Jumlah 18 kamar
_______________________________________________________________
32. Alamat : Jl. Gelogor Carik Gg.Tunjungsari - Denpasar (Belakang Carrefour Sunset Road)
Harga Sewa : Rp. 650.000,- per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam, dan kasur
Lain-lain : Ada kamar mandi luar Rp. 350.000,-
_______________________________________________________________
33. Alamat : Jl. Gelogor Carik Gg.Tunjungsari No.4 Denpasar (Belakang Carrefour Sunset Road) Denpasar
Harga Sewa : Rp. 350.000,- per bulan
Fasilitas : Kamar mandi luar
Lain-lain : Ada kamar mandi dalam Rp. 650.000,-
_______________________________________________________________
34. Alamat : Jl. Pulau Ayu No. 26 Teuku Umar, Denpasar (Sebelah pompa bensin)
Harga Sewa : Rp. 275.000,- per bulan
Fasilitas : Kasur, kamar mandi luar
Lain-lain : Pojok Depan Kost2an ada Toko
_______________________________________________________________
35. Alamat : Jl. Pulau Ayu No. 26 Teuku Umar, Denpasar (Sebelah pompa bensin)
Harga Sewa : Rp. 325.000,- per bulan
Fasilitas : Kasur, kamar mandi dalam
Lain-lain : Pojok Depan Kost2an ada Toko
_______________________________________________________________
36. Alamat : Jl. Pulau Ayu No. 2 Teuku Umar, Denpasar (Sebelah pompa bensin) Teuku Umar
Harga Sewa : Rp. 250.000,- per bulan
Fasilitas : Kamar mandi luar
Lain-lain : Kost2an cukup banyak
_______________________________________________________________
37. Alamat : Jl. Pulau Ayu No. 2 Teuku Umar, Denpasar (Sebelah pompa bensin)
Harga Sewa : Rp. 350.000,- per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam
Lain-lain : Kost2an cukup banyak
_______________________________________________________________
38. Alamat : Jl. Penyaringan 4 No.8 - Sanur Kauh, Sanur - Denpasar
Harga Sewa : Harga Rp.1,3jt dan Rp. 1,5 jt dengan ruang tamu
Fasilitas : AC, TV, kasur, lemari,kulkas,dapur kecil,kamar mandi dalam, teras kecil dan jemuran kecil di belakang.
Lain-lain : Bisa untuk keluarga
_______________________________________________________________
39 Alamat : Jln. Tukad Balian Gg. 12 No. 9 Renon, Denpasar (dekat lapangan Nitimandala Renon)
Harga Sewa : Rp. 350.000,- per bulan
Fasilitas : kost-kost baru pas kamar luas, km dalam, dapur, teras depan, parkir motor…
Lain-lain : Cuma 3 kamar. Dekat Pasar Tkd. Yeh Aya, Renon)
_______________________________________________________________
40. Alamat : Jl. Ceningansari No. 53 Denpasar, Sesetan (Dekat Bengkel)
Harga Sewa : Rp. 300.000/per bulan
Fasilitas : Kamar Mandi Dalam
Lain-lain : Ada 3 kamar, sudah termasuk listrik
_______________________________________________________________
41. Alamat : Jl. Tukad Buaji Gg. 26 No. 9 X - Denpasar Sanglah
Harga Sewa : Rp. 400.000 per bulan
Fasilitas : Kamar Mandi Dalam
Lain-lain : Sudah termasuk listrik
_______________________________________________________________
42. Alamat : Jl. Tukad Irawadi, Denpasar
Harga Sewa : Rp. 400.000 per bulan
Fasilitas : Kamar Mandi Dalam
Lain-lain : Tidak termasuk listrik
_______________________________________________________________
43. Alamat : Jl. P. Ambon Gg. Marmot No. 5 Denpasar
Harga Sewa : Rp. 200.000 per bulan. Tidak termasuk listrik
Fasilitas : Dipan, kasur, kursi dan meja
Lain-lain : Dekat TELKOM Teuku Umar, Jumlah 4 kamar
_______________________________________________________________
44. Alamat : Jl. Halmahera No. 25 Denpasar
Harga Sewa : Rp. 1.600.000 per bulan/bisa sewa harian.
Fasilitas : Lengkap, AC, Air Panas Dingin, Bedset, Almari, Bebas Listrik
Lain-lain : Jumlah 18 kamar
_______________________________________________________________
45. Alamat : Jl. Teuku Umar Gg. Maruti Denpasar (Dekat PT. Telkom)
Harga Sewa : Rp. 2.000.000 per bulan
Fasilitas : Lengkap, AC, TV, Air Panas Dingin, Kasur, Meja rias, Dapur, Jemuran dan Bebas Listrik
Lain-lain : Jumlah 10 kamar. Di Renon juga ada
_______________________________________________________________
46. Alamat : Jl. P. Ambon No. 55 Denpasar (Dekat Musholla AN Nur)
Harga Sewa : Rp. 325.000,- per bulan
Fasilitas : Kamar mandi dalam, listrik, isi kosongan dan tempat bersih
Lain-lain : Ada yang Rp.275.000 km luar dan Rp. 350.000,- luas
_______________________________________________________________
47 Alamat : Jl. Mahendradatta No. 129XX Denpasar (By pass Monang Maning, dekat Hotel Nirmala)
Harga Sewa : Rp. 150.000 per hari
Fasilitas : Luas, springbed, lemari pakaian, AC, bisa Laundry
Lain-lain : Hanya 2 kamar bisa harian, mingguan dan bulanan
_______________________________________________________________
48. Alamat : Jl. Maluku II Gg. IV No. 6 Denpasar (Sebelah jalan Diponegoro) Belakang Grapari TELKOMSEL & RIMO Diponegoro
Harga Sewa : Rp. 360.000,- per bulan
Fasilitas : Kosongan, kamar mandi dalam, dapur bersama, sudah termasuk listrik
Lain-lain : Tidak boleh bawa Mesin cuci dan kulkas
_______________________________________________________________
49. Alamat : Jl. Tukad Batanghari III - Renon (sebelah Nadi Mart)
Harga Sewa : Rp. 650.000,- per bulan Denpasar
Fasilitas : Kamar mandi dalam, tempat bagus lantai 2 Tkd Yeh Aya
Lain-lain : Jika berdua Rp. 750.000,-
_______________________________________________________________
50. Alamat : Jl. Badak Agung I No. 1 - Renon
Harga Sewa : Rp. 500.000 per bulan Denpasar
Fasilitas : Kamar mandi dalam, dapur, teras kecil, bebas listrik
Lain-lain : Ada 6 kamar
_______________________________________________________________
51. Alamat : Jl. Badak Agung XVIII (18) No. 1 - Renon
Harga Sewa : Rp. 250.000,- per bulan
Fasilitas : Kosongan, kamar mandi luar
Lain-lain : Anjingnya usil banget
_______________________________________________________________
52. Alamat : Jl. Tukad Balian Gg. I No. 4 Renon, Denpasar
Harga Sewa : Rp. 650.000,- per bulan Denpasar
Fasilitas : Km dalam, dapur dalam, tidak termasuk listrik
Lain-lain : Ada 23 kamar (Dekat masjid Ar Rahman)
_______________________________________________________________
53 Alamat : Jl. Raya Puputan IV No. 8 Renon, Denpasar
Harga Sewa : Rp. 350.000,- per bulan Denpasar
Fasilitas : Km dalam, dapur dalam
Lain-lain : Dekat masjid Ar Rahman
_______________________________________________________________
54. Alamat : Jl. Tukad Balian (Rumah Kost Nyaman) - Renon
Harga Sewa : Rp. 900.000,- per bulan Denpasar
Fasilitas : Springbed, km dalam, almari, kipas angin
Contact : Hp. 081 24662209 (Bapak Candra)
Lain-lain : Bangunan bagus, dekat masjid Ar Rahman
_______________________________________________________________
55. Alamat : Jl. Dewi Sri Gg. Pararaton No. 2 Kuta (Kost Orange) Kuta
Harga Sewa : Rp. 1.8 juta per bulan
Fasilitas : Lengkap, AC, Kamar Mandi Dalam, Springbed, TV & sudah termasuk listrik.
Lain-lain :
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
56. Alamat : Jl. Dewi Sri Gg. Pararaton Kuta
Harga Sewa : Rp. 2 juta/bulan
Fasilitas : Lengkap, AC, Kamar Mandi Dalam Shower, Springbed, TV, Kulkas, Meja, Kursi Teras, Almari
Lain-lain : Instalasi air panas dengan beli gas sendiri
_______________________________________________________________
57. Alamat : Jl. Raya Kuta Gg. Bambu Kuta
Harga Sewa : Rp. 1.7 juta/bulan
Fasilitas : Lengkap, AC, Kamar Mandi Dalam Shower, Springbed, TV. Tidak termasuk listrik
Lain-lain :
_______________________________________________________________

59. Alamat : Jl. Pulau Ceningan No. 7 Denpasar
Harga Sewa : Rp. 600.000 per bulan
Fasilitas : Kosongan, km dalam, sudah termasuk listrik
Lain-lain : Dekat masjid Al Ghuroba'
_______________________________________________________________
60. Alamat : Jalan Tukad Balin Gang Banteng No 4 - Denpasar
Harga Sewa : Rp 1.500.000 - 1.700.000 (sudah termasuk listrik dan air).
Fasilitas : kamar: (luas 3,5 x 5 meter), AC, TV dan TV drawer serba guna, double bed, lemari, bed side tables, Dapur, Meja dapur, Kamar mandi:(luas 1,3 x 1,3 meter), shower, cermin, closet duduk. Balcony, 2 kursi dan meja dengal, Tempat jemuran, gantungan baju
Lain-lain : Parkir mobil • Taman yang indah • Security • Cleaning services • Loundry (extra charge)• Rent cars (extra charge)• Rent sepeda motor (extra charge), Lokasi strategis, di daerah Renon Denpasar, Bali. Kurang lebih 10 menit dari Sanur
_______________________________________________________________
61. Alamat : Jl Gelogor Carik Gg. Tunjung No.6B Denpasar
Harga Sewa : Rp. 1.000.000 per bulan, tidak termasuk listrik
Fasilitas : AC, Halaman Luas, Parkir Motor, Nyaman, 5 Menit ke Carrefour Sunset Road
Lain-lain : Dengan TV dan Tempat Tidur Rp. 1.5 juta



Bagi anda yang ingin mengetahui kost dibali lainnya dapat menhubungi email saya :

EMAIL : firdaus.zanuar@gmail.com
               firdauszanuar12@yahoo.co.id
PIN BB : 26E96BAE